Imajinasi Bunga.

5118

Entahlah, melihat foto diatas membuat saya ingin sekali menulis, menyuarakan hati nurani dan akal sehat saya. Dan sayapun akhirnya membuat blog untuk menuliskannya.

Foto itu saya temukan tak sengaja saat saya sedang mencari gambar bunga Daffodil. Entah pertanda apa cukup lama saya melihat foto itu, membayangkan banyak hal. Dalam foto itu terlihat, seorang perempuan yang saya kira dia adalah warga biasa, dihadapannya terlihat barisan tentara yang entah sedang melindungi apa atau siapa.

Perempuan itu terlihat sedang ingin meberikan setangkai bunga kepada para tentara tersebut. Tak terlihat raut ketakutan di wajah perempuan itu. Imajinasi saya menangkap, perempuan itu sedang menunjukkan simbol perlawanan. Perlawanan? mungkin terdengar anarkis, tapi tidak dalam imajinasi saya. Perlawanan dengan cinta. Ya, itu yang saya imajinasikan.

Bunga bukan hanya tanaman bagi saya, dia adalah ungkapan bisu dari perasaan manusia. Cinta, Kasih sayang, Penghormatan, Kebencian, Kesedihan, setidaknya itu yang saya pahami. Ya, satu bunga bisa memiliki banyak makna. Tetapi bagi saya, dalam bunga saya menaruh harapan tentang PERDAMAIAN. Perdamaian yang setidaknya ada di bumi Nusantara kita.

Masih nyata di Nusantara kita ini, bagaimana ribuan manusia Indonesia membuat sejarah dimana sebuah Kantor Pemerintahan di Balai Kota Jakarta dipenuhu ribuan karangan bunga. Kenapa manusia Indonesia yang sebut, bukan manusia Jakarta? dimana karangan Bunga itu ditunjukkan kepada Pak Basuki Tjahaya Purnama dan Djarot Saiful Hidayat. Ya, karena memang nyatanya tak hanya manusia Jakarta saja yang memberikan karangan bunga itu, manusia lain di Nusantara ini yang masih memiliki nurani dan akal sehat saya rasa banyak yang ingin sekali memberikannya, tapi ada hal yang mungkin tak bisa membuat mereka memberikannya, tetapi sekali lagi saya kira mereka pasti sangat ingin.

Dan pada satu moment, karangan bunga itu dirusak, dibakar, dicap sampah oleh yang saya kira mereka bukanlah anak Nusantara kita ini. Entah paham apa yang mereka bawa. Saya sedih melihat hal itu terjadi, ini bukan tentang karangan bunga yang rusak, lebih dari itu, mereka merusak salah satu dari makna bunga, yaitu Cinta. Seperti yang saya bilang, bunga juga berarti ungkapan cinta dari kata yang tak tersampaikan. Cinta dari si pemberi bunga kepada Pak Ahok dan Pak Djarot. Mereka manaruh harapan yang dalam karangan bunga tersebut. Harapan inginnya Nusantara ini tertanam PERDAMAIAN bagi semua anak Negri.

Imajinasi saya berlanjut, seandainya perang yang peluru senapannya terbuat dari bunga tentu perang akan begitu menyenangkan, seandainya tawuran yang batunya terbuat dari bunga juga pasti menyenangkan, seandainya nuklir yang terbuat dari bunga pasti akan tercipta hujan dan radiasi cinta bagi manusia. Tetapi nyatanya tak sesuai imajinasi saya, semua itu dibuat dari rasa benci.

Tetapi tidak begitu saja mati imajinasi saya. Wiji Thukul pernah menuliskan puisi tentang bunga.

BUNGA DAN TEMBOK

Seumpama bunga
Kami adalah bunga yang tak
Kau hendaki tumbuh
Engkau lebih suka membangun
Rumah dan merampas tanah

Seumpama bunga
Kami adalah bunga yang tak
Kau kehendaki adanya
Engkau lebih suka membangun
Jalan raya dan pagar besi

Seumpama bunga
Kami adalah bunga yang
Dirontokkan di bumi kami sendiri

Jika kami bunga
Engkau adalah tembok itu
Tapi di tubuh tembok itu
Telah kami sebar biji-biji
Suatu saat kami akan tumbuh bersama
Dengan keyakinan: engkau harus hancur!

Dalam keyakinan kami
Di manapun – tirani harus tumbang!

Dan pada akhirnya, saya tentu akan tersenyum bersama anak-anak Nusantara ini di dalam tanah, tempat kami menanam benih-benih bunga yang suatu saat akan tumbuh subur menyingkirkan ilalang perusak. Tak akan kami biarkan ilalang itu tumbuh lagi merusak bunga kami. Biarkan mereka mati, mati oleh keindahan damai yang kami tumbuhkan.

Terimakasih untuk anak-anak Negri yang masih tumbuh subur di Nusantara ini, walau kita masih terus diberi racun oleh mereka yang meng-ESA kan dirinya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s